Pejuang Polri Kalimantan Selatan

Mathilda Batalyeri

Pahlawan Bhayangkari

Gugur Sebagai Prisai Bhayangkara 

 

 

 

Sejarah Bhayangkari Polda Kalimantan Selatan tidak dapat lepas dari kisah heroik Mhatilda Batalyeri. Seorang istri Polisi yang gugur dalam mempertahankan Pos/Asrama Polisi Kurau Kabupaten Tanah Laut    ( dahulu Kewedanaan Tanah Laut) Kalimantan Selatan bersama ketiga anaknya.

 

Sebagai negara yang baru saja merdeka, maka sangat wajar jika terjadi pergolakan-pergolakan di wilayah Indonesia. Ketidakpuasan terhadap kebijakan politik yang diambil oleh pemerintah pusat uang membuat pergolakan banyak terjadi di daerah-daerah. Dan tidak berbeda dengan daerah lainnya, wilayah Kalimantan pada tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an terjadi pergolakan.

Di Kalimantan Selatan pemberontakan dilakukan oleh Ibnu Hajar di wilayah  Hulu Sungai sepanjang kawasan pegungungan Maratus pada tahun 1950, dengan Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT. Gerakan Pengacau Keamanan (KRyT) senantiasa melakukan teror dan penyerangan kepada kampung-kampung yang dilaluinya. Tak jarang terjadi penghadangan dan penyerangan terhadap patroli-patroli tentanra dan polisi dengan tujuan utama merebut senjata sebanyak -banyaknya. Bahkan GPK KRyT tak segan untuk menyerang pos dan asrama militer/polisi.

Seperti yang terjadi pada Pos/Asrama polisi Kurau Kewedanaan Tanah Laut Kalimantan Selatan yang termasuk wilayah dari basis pertahanan GPK KRyT tersebut. Dan pada Rabu, 28 September 1953 dini hari, gerombolan KRyT melakukan penyerangan terhadap Pos/Asrama polisi yang termasuk wilayah terdepan, mengingat Kurau adalah merupakan basis pertahanan GPK KRyT.

Dalam penyerangan tersebut, kekuatan GPK KRyT mencapai 50 orang pasukan yang tergabung dari pasukan yang dipimpin oleh Handil Lawahan dan Handil Bakalang dengan pucuk pimpinan tertinggi Suwardi yang dikenal memiliki ilmu kebal. Mereka dipersenjatai dengan beberapa jenis senjata api yang terbilang modern pada saat itu. Namun ada juga dari mereka yang hanya bersenjata tajam yang dikenal dengan nama Kelompok Riwas.

Pertempuran Subuh

Serangna mendadak di ambang fajar yang dilakukan oleh gerakan GPK KRyT terhadap Pos/Asrama Polisi Kurau tersebut hanya dihadapi oleh lima orang anggota Polisi bersenjata dan seorang Bhayangkari yang mempergunakan senjata jenis moser milik suaminya. Bhayangkari tersebut adalah Mathilda Batalyeri, yang melibatkan diri dalam pertempuran dikarenakan kekuatan anggota Polsi yang tidak berimbang dalam pertempuran tersebut sehingga membuat dirinya terpanggil untuk mempertahankan Pos/Asrama Polisi tersebut. Sedangkan suami Mathilda Batalyeri, AP II (Agen Polisi II) Adrianus Batalyeri, saat pertempuran terjadi sedang mengambil air di sumur, namun karena tidak memungkinkan untuk kembali maka Adrianus tidak terlibat dalam pertempuran.

Dalam Pertempuran tersebut, GPK KRyT mengalami kesulitan untuk melumpuhkan kekuatan Pos/Asrama Polisi Kurau. Bahkan Suwardi pempimpin penyerangan yang konon memiliki ilmu kebal, tertembak oleh Mathilda Batalyeri. Ternyata kekebalan Suwardi hanya dapat dipatahkan oleh kekuatan perempuan. Namun tetap saja pertempuran tersebut berlangsung dengan tidak seimbang. Satu persatu Kesuma Bangsa berguguran, termasuk ketiga anak dari Mathilda Batalyeri.

Secara berurutan, putra pertama Mathilda  “Alex” gugur, saat itu Alex baru berusia sembilan tahun, kemudian putra kedua Mathilda “Lodewijk” menyusul gugur, waktu itu usia Lodewijk baru 6 tahun, dia gugur dikamar asrama yang mereka tempati. Kemudian putra ketiga Mathilda “Max” juga gugur diusian 2,5 tahun, Max meninggal dipelukan ibunya.

Karena melihat ketiga anaknya sudah meninggal, membuat semangat tempur Mathilda Batalyeri seorang Bhayangkari semakin berkobar, akan tetapi setelah bertempur kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Mathilda Batalyeri gugur sebagai Kesuma Bangsa bersama janin yang sedang dikandungnya. Setelah tidak ada perlawanan lagi dari pihak Polisi, maka GPK KRyT membumuhanguskan Pos/Asrama Polisi Kurau. Jenazah Mathilda dan ketiga anaknya turut terbakar dalam kobaran api tersebut.